NOTIFNEWS – Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melaksanakan kegiatan transfer teknologi induced breeding atau pemijahan buatan di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Rizky Mina Utama, Kota Tarakan. Kegiatan ini mengusung tema “Transfer Teknologi Induced Breeding bagi Peningkatan dan Optimisasi Benih Ikan Unggul”.
Ketua Pelaksana PKM UBT, Dr.Gloria Ika Satriani, menjelaskan kegiatan ini menitikberatkan pada tiga jenis ikan air tawar yang pasarnya besar di Tarakan, yakni lele, nila, dan gurame. Dari ketiganya, lele menjadi komoditas paling dominan karena tingkat konsumsi masyarakat tinggi.
“Kalau kita lihat UMKM di Tarakan, banyak yang menjual olahan lele seperti lele geprek dan lele pecel. Permintaannya terus ada, sementara Tarakan belum punya balai benih ikan air tawar. Kalau mendatangkan indukan dari Tanjung Selor, selain biaya besar, risikonya juga tinggi karena ikan bisa mati di perjalanan,” jelas Gloria.

Ia menambahkan, teknologi induced breeding dilakukan dengan bantuan hormon sehingga pemijahan lebih terkontrol dan sesuai kebutuhan produksi. “Untuk lele, uji coba sudah berhasil dilakukan. Nila punya tantangan karena telurnya dierami di mulut induk betina, sedangkan gurame terkendala kualitas air di Tarakan yang cenderung asam. Padahal gurame butuh air jernih dengan pH mendekati netral agar betinanya matang gonad,” ujarnya.
Menurut Gloria, induced breeding merupakan teknik budidaya dengan induksi hormon yang lebih efektif dibandingkan pemijahan alami. Pemijahan alami sulit diprediksi waktunya, sementara dengan induksi hormon, proses bisa diatur lebih cepat dan terukur.
“Keunggulannya, indukan tidak harus dikorbankan. Hormon yang digunakan juga sudah tersertifikasi, sehingga tetap sesuai standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Artinya aman bagi ikan, ramah lingkungan, dan hasilnya aman dikonsumsi masyarakat,” tambahnya.
Gloria berharap teknologi ini dapat menjadi proyek percontohan bagi pembudidaya lain di Tarakan agar mau belajar menggunakan teknologi modern untuk menghasilkan indukan unggul.
Sementara itu, Ketua Pokdakan Rizky Mina Utama, Fidi Asrani, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, anggota kelompok sangat antusias mengikuti praktik penyuntikan hormon yang dipandu tim UBT.
“Ini pertama kali kami mencoba teknik penyuntikan. Sebelumnya hanya menggunakan pemijahan alami. Dengan cara baru ini, kami berharap hasil benih lebih banyak dan kualitasnya lebih baik,” kata Fidi.
Kelompoknya saat ini mendapat bantuan indukan lele sangkuriang bersertifikat sebanyak 15 ekor atau 6 pasang. Dengan 10 anggota, Pokdakan Rizky Mina Utama mampu memproduksi rata-rata 2 ton ikan lele setiap bulan dengan masa panen 2,5 hingga 3 bulan.
“Kalau berhasil, kami tidak perlu lagi membeli benih dari luar. Ini akan sangat mengurangi biaya produksi. Kami juga berharap UBT tidak berhenti pada pelatihan, tapi terus mendampingi kami dalam proses budidaya maupun pemasaran,” tambah Fidi.
Dengan penerapan teknologi induced breeding dari UBT, Pokdakan Rizky Mina Utama optimistis dapat memenuhi permintaan pasar benih ikan air tawar secara mandiri. Program ini diharapkan menjadi langkah awal mewujudkan kemandirian produksi benih lokal di Tarakan dan Kalimantan Utara.









