NOTIFNEWS – Pegadaian memproyeksikan harga emas masih berpotensi mengalami kenaikan pada tahun 2026, meski sepanjang tahun 2025 telah mencatat lonjakan tertinggi sepanjang sejarah. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta perubahan kebijakan ekonomi dunia, khususnya Amerika Serikat.
Kepala Cabang Pegadaian Tarakan, Yasir menjelaskan, sepanjang tahun 2025 harga emas mengalami kenaikan yang sangat signifikan, bahkan mendekati 70 persen. “Untuk tahun 2025 merupakan kenaikan harga emas yang tertinggi selama ini, hampir mendekati 70 persen. Sempat turun dari 70 persen ke sekitar 67 persen, tapi tetap kenaikannya luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi geopolitik global menjadi faktor utama yang mendorong harga emas terus menguat. Perubahan kebijakan Amerika Serikat dan ketidakpastian politik internasional berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia. “Geopolitik yang berubah-ubah, apalagi kebijakan Amerika yang ikut berubah, otomatis memengaruhi stabilitas ekonomi global dan harga emas,” katanya.

Pegadaian juga memproyeksikan harga emas pada tahun 2026 masih berpotensi mengalami kenaikan di kisaran 14 hingga 20 persen. Namun, proyeksi tersebut masih sangat bergantung pada kondisi global. “Untuk 2026 ada perkiraan kenaikan sekitar 14 sampai 20 persen. Tapi ini bisa berubah, bisa naik lagi kalau stabilitas politik global semakin goyang seperti sekarang,” jelasnya.
Ia mencontohkan, peristiwa geopolitik internasional seperti kasus di Venezuela sempat memicu lonjakan harga emas dunia secara drastis. “Tadi malam saat ada isu Presiden Venezuela ditangkap oleh Amerika, harga emas langsung melonjak. Dari sekitar 4.300 dolar per troy ounce naik ke 4.360 sampai 4.370 dolar,” ungkapnya.
Bahkan, pada perdagangan berikutnya harga emas dunia sempat menembus level 4.400 dolar per troy ounce. Kenaikan tersebut dinilai mencerminkan kuatnya peran emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global.
Lebih lanjut dijelaskan, tren de-dolarisasi dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. “Biasanya kalau dolar naik, emas turun. Tapi sekarang dolar ditekan karena de-dolarisasi, otomatis emas naik karena semua larinya ke safe haven,” katanya.
Dari sisi kinerja perusahaan, lonjakan harga emas berdampak positif terhadap Pegadaian. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan sejumlah produk tercatat melampaui target. “Untuk standing loan, omsetnya sekitar 50 persen dari target. Produk cicilan emas malah melebihi target, dari Rp20 miliar tercapai menjadi Rp25 miliar,” jelasnya.
Produk gadai juga mengalami peningkatan signifikan. “Target gadai Rp230 miliar, realisasinya naik sekitar Rp60 miliar. Artinya hampir semua produk Pegadaian melebihi target,” tambahnya.
Selain itu, jumlah nasabah Pegadaian juga tumbuh signifikan. “Nasabah baru tumbuh di atas 20 persen. Saat ini masyarakat masih cenderung membeli emas untuk simpanan,” ujarnya.
Terkait investasi logam mulia lain, Pegadaian tetap menyarankan masyarakat memilih emas dibanding perak. “Perak memang sempat naik sampai 130 persen tahun lalu, tapi dari sisi pasar dan pengujian masih terbatas. Kalau emas, lima tahun ke depan masih sangat berpotensi lebih tinggi dari harga sekarang,” pungkasnya. (VP)









