NOTIFNEWS – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan mendapat perhatian Komisi II DPRD Tarakan yang melakukan uji petik di sejumlah sekolah, salah satunya SMP Negeri 1 Tarakan, Selasa (10/2/2026).
Dalam kegiatan pengawasan lapangan tersebut, anggota Komisi II DPRD Tarakan meninjau langsung proses distribusi makanan ke kelas-kelas serta berdialog dengan siswa untuk menyerap masukan terkait kualitas menu dan fasilitas pendukung program MBG.
Secara umum, siswa menilai program MBG sangat membantu kebutuhan makan selama kegiatan belajar di sekolah. Namun, sejumlah catatan disampaikan, terutama terkait variasi menu, kualitas sayur, serta ketersediaan air minum.
Salah satu siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tarakan, M. Aidil, menyampaikan bahwa porsi nasi dinilai sudah mencukupi. Meski demikian, ia berharap kualitas sayur dapat ditingkatkan, khususnya dari sisi kuah.
“Sebenarnya porsi nasinya sudah pas, cuma kadang sayurnya itu kurang banyak airnya. Jadi teman-teman yang tidak membawa air minum merasa kesulitan,” ujarnya.
Sementara itu, siswa lain bernama Faith Farraz Saud mengusulkan agar ketersediaan air minum menjadi perhatian utama, mengingat tidak semua siswa membawa minuman dari rumah.
“Kalau bisa disediakan air minum. Ada teman yang sampai minum air kran karena tersedak,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan, Simon Patino, menegaskan bahwa seluruh masukan siswa akan menjadi bahan evaluasi dalam rapat bersama koordinator wilayah SPPG dan mitra penyedia MBG dalam waktu dekat.
“Kami mendengar langsung keluhan siswa, terutama soal variasi menu dan kualitas sayur. Ini penting karena menyangkut selera makan anak-anak. Kalau menunya terlalu monoton atau kualitasnya kurang baik, anak-anak bisa enggan makan dan tujuan pemenuhan gizi tidak tercapai,” ujar Simon.
Terkait ketersediaan air minum, Simon menjelaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah menyiapkan fasilitas air minum berupa dispenser. Namun, dengan jumlah siswa yang banyak, kebutuhan air masih perlu dievaluasi.
“Sekolah sudah menyiapkan lima dispenser dan menghabiskan sekitar lima sampai tujuh galon air per hari. Tapi tetap kami imbau agar siswa membawa tumbler dari rumah, karena jumlah siswa cukup banyak dan kebutuhannya tinggi,” jelasnya.
Simon juga menyampaikan bahwa selama pelaksanaan MBG di SMP Negeri 1 Tarakan, tidak ditemukan keluhan terkait gangguan kesehatan pada siswa.
“Alhamdulillah tidak ada keluhan mual atau hal lain yang mengarah ke masalah kesehatan. Kami terus mengingatkan pengawas dan penyedia agar kualitas makanan benar-benar diperhatikan,” tambahnya.
Terkait anggaran, Simon menilai kualitas makanan dengan nilai Rp15.000 per porsi, di mana Rp10.000 dialokasikan untuk komponen makanan, sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ia menegaskan bahwa menu MBG disusun seragam untuk menjaga standar gizi.
“Menu harus sama untuk semua siswa. Kalau ada yang tidak dimakan, sebaiknya dibagikan ke teman lain agar tidak terbuang,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Komisi II DPRD Tarakan juga mengapresiasi sistem distribusi MBG di SMP Negeri 1 Tarakan yang dinilai tertata rapi. Makanan dikelompokkan berdasarkan kelas dan dibagikan oleh perwakilan siswa ke masing-masing ruang belajar.
Meski demikian, Simon mengungkapkan masih terdapat sekolah di Kota Tarakan yang belum menerima program MBG. Berdasarkan hasil evaluasi sementara, sekitar 20 sekolah dasar dan 10 sekolah menengah pertama belum terjangkau akibat keterbatasan kesiapan infrastruktur dapur umum.
“Saat ini ada delapan dapur yang belum siap beroperasi. Kami sedang melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari formula agar seluruh sekolah bisa segera merasakan program MBG,” ungkapnya.
Ia menambahkan, uji petik yang dilakukan di SMP Negeri 1 Tarakan, SDN 004, SMP Negeri 2, dan SDN Utama 1 merupakan langkah awal pengawasan Komisi II DPRD Tarakan.
“Hasil dari SMP Negeri 1 ini menjadi barometer. Kalau di sekolah pusat kota saja masih ada masukan, maka sekolah-sekolah yang lebih jauh harus mendapat perhatian lebih. Kami akan memanggil seluruh pihak terkait untuk mencari solusi bersama, termasuk memastikan distribusi selama Ramadan berjalan lancar,” pungkas Simon. (VP)









