NOTIFNEWS – Bank Indonesia menilai penggunaan QRIS di Kalimantan Utara masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Saat ini, pengguna QRIS di Kaltara disebut baru menjangkau sekitar 25 persen masyarakat usia produktif.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan, masih terdapat sekitar 75 persen potensi pengguna QRIS yang belum tergarap di wilayah Kaltara.
Menurutnya, peluang tersebut menjadi ruang besar bagi pengembangan sistem pembayaran digital di daerah.
“Masih ada sekitar 75 persen masyarakat usia produktif yang menjadi potensi pengguna QRIS di Kaltara,” katanya.
BI mencatat penggunaan QRIS di Kalimantan Utara terus mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2026.
Dari sisi volume transaksi, pertumbuhan tercatat mencapai sekitar 400 persen atau meningkat empat kali lipat dibanding periode sebelumnya.
Sementara nilai transaksi juga meningkat sekitar 200 persen atau dua kali lipat.
“Artinya bukan hanya penggunanya yang bertambah, tapi frekuensi penggunaannya juga semakin tinggi. Ini perkembangan yang cukup baik,” ujarnya.
Menurut Hasiando, capaian tersebut menjadi dasar optimisme bahwa penggunaan QRIS di Kaltara masih akan terus tumbuh hingga beberapa tahun ke depan.
Apalagi saat ini implementasi QRIS mulai diperluas ke berbagai sektor layanan publik, mulai dari pelabuhan, SPBU, hingga sistem perparkiran.
“Kalau penggunaan pembayaran digital semakin luas, tentu dampaknya juga akan semakin besar terhadap efisiensi transaksi masyarakat,” ucapnya.
Selain efisiensi, penggunaan QRIS juga dinilai mampu meningkatkan transparansi transaksi dan mengurangi potensi kebocoran pada transaksi tunai.
“Kalau transaksi tunai kan ada potensi yang tidak tercatat dengan baik. Dengan QRIS, transaksi jadi lebih transparan,” katanya.
Untuk mendukung perluasan penggunaan QRIS, BI juga terus mendorong penguatan literasi digital kepada masyarakat maupun pelaku usaha.
Menurutnya, edukasi menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menggunakan QRIS, tetapi juga memahami manfaat sistem pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Yang terus kami dorong bukan hanya penggunaannya, tetapi juga pemahaman masyarakat terhadap ekosistem pembayaran digital,” tutupnya. (*)












