NOTIFNEWS – Penggunaan QRIS di Kalimantan Utara terus diperluas ke berbagai layanan publik. Setelah digunakan di sektor perdagangan, pembayaran digital kini mulai diterapkan di pelabuhan speedboat hingga SPBU.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan, implementasi QRIS di sejumlah sektor berjalan seiring meningkatnya penggunaan transaksi digital masyarakat di Kaltara.
Menurutnya, transaksi QRIS di Kalimantan Utara terus mengalami pertumbuhan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Penggunaan QRIS di Kaltara terus berkembang, baik dari sisi pengguna, merchant, maupun volume transaksi,” katanya, Rabu (13/5/2026).
Berdasarkan data BI, nilai transaksi QRIS di Kaltara sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp2,4 triliun dengan volume transaksi mencapai 21,5 juta transaksi.
Secara tahunan, nominal transaksi tumbuh 266 persen sementara volume transaksi meningkat hingga 408 persen.
Saat ini, implementasi QRIS di sektor transportasi laut mulai diterapkan melalui pembayaran tiket speedboat di pelabuhan Tarakan dan Bulungan yang telah memasuki tahap soft launching.
“Di Tarakan dan Bulungan sudah soft launching, jadi pembayaran menggunakan QRIS di pelabuhan speedboat sudah mulai berjalan,” ujarnya.
Sementara itu, penerapan serupa di Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung ditargetkan segera menyusul dalam waktu dekat.
BI juga mulai memperluas penggunaan QRIS di sektor SPBU, khususnya di Kota Tarakan. Menurut Hasiando, sejumlah SPBU di wilayah Bulungan sebelumnya sudah lebih dulu menerapkan pembayaran digital.
Ia memastikan penggunaan QRIS di area SPBU tetap aman digunakan dan telah dikoordinasikan bersama pihak Pertamina maupun Patra Niaga.
“Di beberapa daerah lain sudah berjalan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Pertamina dan Patra Niaga terkait penerapan pembayaran digital di SPBU,” ucapnya.
Selain itu, digitalisasi pembayaran juga mulai diarahkan ke sektor parkir untuk mengurangi penggunaan transaksi tunai.
Menurutnya, sistem pembayaran parkir nantinya bisa dilakukan melalui loket resmi, petugas parkir, maupun menggunakan e-money sesuai kondisi di lapangan.
“Tujuannya supaya transaksi lebih tertata dan penggunaan uang tunai bisa dikurangi,” katanya.
BI menilai perluasan QRIS di berbagai sektor menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi digital di Kalimantan Utara.
Saat ini tingkat penggunaan QRIS di Kaltara disebut baru menjangkau sekitar 25 persen masyarakat usia produktif sehingga peluang pengembangannya masih cukup besar.
“Masih banyak ruang yang bisa didorong, baik dari jumlah pengguna maupun transaksi digital masyarakat,” tutupnya. (*)












