NOTIFNEWS – Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., diundang sebagai narasumber pada kegiatan Ceramah Profesional ASN yang menjadi bagian dari Pelatihan Dasar CPNS Angkatan XXX–XXXIV, yang digelar oleh Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Pemerintahan, Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Makassar, Rabu (12/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Tarakan membawakan materi bertema “Membangun Profesionalisme ASN: Pilar Pelayanan Publik Berkualitas.” Ia menekankan bahwa profesionalisme merupakan fondasi utama terbentuknya birokrasi modern yang mampu menjawab tantangan zaman dan memenuhi ekspektasi masyarakat.
Menurut Khairul, seorang ASN profesional harus memiliki tiga karakter utama: integritas yang kuat, kompetensi yang relevan, dan semangat pengabdian tinggi. Ketiganya menjadi penopang utama terciptanya pelayanan publik yang transparan, responsif, dan berorientasi pada hasil.
“Profesionalisme ASN adalah kunci kemajuan bangsa. ASN yang memiliki semangat belajar, kemampuan adaptasi, dan etika pelayanan yang baik akan menjadi motor penggerak birokrasi yang efektif,” ujar Wali Kota.
Dalam forum tersebut, Wali Kota Khairul berbagi pengalaman nyata Pemerintah Kota Tarakan dalam membangun sistem manajemen ASN yang berbasis kinerja dan inovasi. Ia menyoroti pentingnya pelatihan berkelanjutan, budaya evaluasi, serta penggunaan teknologi informasi dalam memperkuat tata kelola pemerintahan.
Kegiatan yang diikuti oleh 250 CPNS dari Kota Palopo, Kabupaten Pangkep, dan Kabupaten Barru ini menjadi ajang pembelajaran lintas daerah tentang strategi mewujudkan aparatur sipil negara yang berdaya saing dan berintegritas.
Wali Kota Tarakan juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala LAN Makassar, Aswad, yang telah memberikan kesempatan untuk berbagi dalam forum tersebut. Ia berharap, kolaborasi antara LAN dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat guna mencetak ASN yang berkompeten dan berkarakter.
“Semoga kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat pengabdian dan meningkatkan kualitas ASN di seluruh Indonesia. Profesionalisme harus menjadi budaya, bukan sekadar tuntutan jabatan,” pungkasnya. (ADV)









