NOTIFNEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara menggelar gladi simulasi vertical rescue dalam rangka menghadapi potensi bencana gempa bumi dan kebakaran gedung. Kegiatan ini dilaksanakan di RSUD Jusuf SK Tarakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan dan respon cepat daerah terhadap bencana, khususnya di fasilitas vital pelayanan publik.
Simulasi tersebut dilaksanakan pada Kamis dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari BPBD Provinsi Kalimantan Utara, BPBD Kota Tarakan, instansi vertikal, unsur DPRD Provinsi Kalimantan Utara, hingga tim penanggulangan bencana rumah sakit. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara yang diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Utara, Andi Amriampa, mengatakan gladi simulasi ini bertujuan mengantisipasi potensi bencana gempa bumi dan kebakaran gedung yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama di lingkungan rumah sakit.
“Hari ini kita melaksanakan gladi simulasi vertical rescue dalam rangka mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dan kebakaran gedung, khususnya di rumah sakit yang ada di Provinsi Kalimantan Utara,” ujar Andi Amriampa.
Menurutnya, simulasi ini menjadi sarana penting untuk menguji respon cepat, keterampilan teknis, serta kesiapan mental para personel yang bertugas di lapangan. Ia menekankan bahwa latihan berkelanjutan sangat diperlukan agar petugas terbiasa menghadapi situasi darurat yang nyata.
“Untuk respon cepat, kita memang perlu kesiapsiagaan dan latihan. Yang diuji bukan hanya keterampilan, tetapi juga mental teman-teman yang bertugas di lapangan, karena bencana bisa terjadi kapan saja,” katanya.

Dari hasil pelaksanaan simulasi, BPBD mencatat sejumlah catatan evaluasi yang akan menjadi bahan perbaikan ke depan. Salah satunya terkait pematangan skenario dan penentuan lokasi evakuasi agar proses penyelamatan korban dapat berlangsung lebih efektif.
“Perlu pematangan skenario dan peninjauan lokasi yang lebih matang. Tadi korban diturunkan dari lantai enam ke lantai empat, padahal sebenarnya bisa langsung dievakuasi ke lantai satu agar lebih efektif,” jelasnya.
Andi menegaskan, setiap simulasi akan ditindaklanjuti dengan penyusunan dan penyempurnaan rencana kontinjensi serta rencana operasi dalam menghadapi berbagai jenis bencana.
“Bukan hanya gempa dan kebakaran, semua jenis bencana memerlukan rencana kontinjensi dan rencana operasi yang matang untuk melatih kesiapsiagaan personel,” tegasnya.
Ia juga mendorong rumah sakit sebagai fasilitas vital untuk membentuk tim siaga bencana internal serta melengkapi peralatan pendukung yang dapat digunakan sewaktu-waktu.
“Ke depan, setiap rumah sakit kami sarankan menyiapkan tim siaga bencana, termasuk peralatan yang bisa langsung difungsikan. Simulasi juga tidak cukup satu atau dua kali, tetapi harus rutin dilakukan,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Fire and Rescue RSUD Jusuf SK, Martinus Amir, menjelaskan bahwa keterlibatan tim rumah sakit dalam simulasi tersebut awalnya hanya sebagai peserta. Namun karena RSUD Jusuf SK memiliki tim khusus di bawah K3, yakni Fire Rescue, tim rumah sakit turut dilibatkan langsung dalam proses evakuasi.
“Awalnya kami hanya peserta, tapi karena di K3 rumah sakit ada tim Fire Rescue, akhirnya kami dilibatkan secara langsung. Memang dadakan, tapi karena tim kami sudah pernah berlatih, kami siap,” ujarnya.
Dalam simulasi, skenario yang dijalankan adalah evakuasi korban yang terjebak di lantai atas gedung akibat gempa atau kebakaran, dengan kondisi tidak memungkinkan menggunakan jalur evakuasi biasa seperti tangga atau lift.
“Simulasinya vertical rescue. Ada korban yang terjebak dan tidak bisa keluar lewat jalur normal, sehingga diturunkan menggunakan teknik tapping. Tim dari BPBD Provinsi dan Kota menurunkan korban, lalu kami menyambut dan membawa korban sampai ke IGD,” jelas Martinus.
Ia menilai simulasi berjalan lancar, namun tetap terdapat kekurangan yang menjadi bahan evaluasi, terutama terkait kekompakan tim dan potensi kendala di situasi nyata.
“Kalau simulasi ini memang lancar, karena masih latihan. Tapi kalau kejadian sebenarnya, bisa saja ada asap, kepadatan, atau keterlambatan personel. Itu yang harus terus kita latih,” katanya.
Martinus menambahkan, simulasi kebencanaan di rumah sakit wajib dilaksanakan secara rutin sesuai standar akreditasi rumah sakit.
“Di rumah sakit, simulasi seperti ini wajib dilakukan minimal satu sampai dua kali dalam setahun. Ini bagian dari standar akreditasi, karena rumah sakit harus siap menghadapi kejadian luar biasa,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesiapan seluruh unsur rumah sakit, mulai dari tenaga kesehatan hingga tim pendukung, dalam menghadapi situasi darurat di masa mendatang.
BPBD Kalimantan Utara menilai simulasi ini sebagai langkah awal untuk memperkuat kapasitas tim reaksi cepat bencana di daerah. Ke depan, BPBD mendorong kolaborasi lintas instansi serta peningkatan sarana dan prasarana guna memastikan penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat, aman, dan terkoordinasi.









