NOTIFNEWS – Sejumlah peternak ayam potong di Kota Tarakan memilih mengurangi produksi menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi ketidakpastian pasar, terutama akibat masuknya ayam beku yang dinilai mempengaruhi penyerapan ayam lokal.
Salah satu peternak ayam potong dari CV Naga Jaya Tarakan, Dapot Sinaga, mengatakan pihaknya hanya mampu menyalurkan sekitar 17 ribu ekor ayam menjelang Lebaran tahun ini. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar 25 ribu ekor.
Menurut Dapot, keputusan menekan produksi diambil setelah mempertimbangkan kondisi pasar yang dinilai tidak stabil. Selain keterbatasan bibit ayam atau Day-Old Chick (DOC), peredaran ayam beku di pasaran juga mempengaruhi perhitungan produksi peternak lokal.
“Kalau melihat kondisi sekarang, kami harus lebih berhati-hati menyiapkan stok. Tahun ini kami hanya menyalurkan sekitar 17 ribu ekor, padahal tahun lalu menjelang Idul Fitri bisa sampai 25 ribu ekor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masuknya ayam beku membuat peternak kesulitan memperkirakan kebutuhan pasar secara pasti. Apabila produksi dilakukan dalam jumlah besar sementara pasar juga dipasok ayam beku, maka ayam hidup milik peternak berpotensi tidak terserap.
“Kami sebenarnya bisa saja menambah produksi, tapi kami juga harus menghitung risiko. Kalau tiba-tiba ayam beku masuk dalam jumlah besar, ayam yang sudah siap panen bisa tertahan di kandang,” katanya.
Di sisi lain, Dapot memastikan harga jual ayam dari peternak ke pedagang relatif stabil meski memasuki momen hari besar keagamaan. Harga ayam potong saat ini berada di kisaran Rp29.000 per kilogram, hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan harga normal sekitar Rp28.000 per kilogram.
“Kami tetap menjaga harga kontrak dengan pedagang. Selisihnya tidak jauh, sekitar seribu rupiah saja per kilogram. Itu pun lebih banyak untuk menutup biaya operasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, keuntungan yang diperoleh peternak sebenarnya tidak terlalu besar karena sebagian besar digunakan untuk menutup biaya produksi, seperti pakan, tenaga kerja, hingga operasional kandang.
Meski aktivitas peternakan meningkat selama Ramadan karena permintaan pasar biasanya lebih tinggi, para peternak tetap berhati-hati dalam menyiapkan pasokan agar tidak terjadi kelebihan produksi.
Selain itu, pelaku usaha juga berharap adanya koordinasi yang lebih intens antara pemerintah daerah dan para peternak maupun distributor ayam potong, terutama menjelang momentum meningkatnya kebutuhan masyarakat seperti Ramadan hingga Idul Fitri.
Menurutnya, komunikasi yang baik sangat diperlukan agar pemerintah dapat memperoleh gambaran pasti terkait kesiapan stok di lapangan, sekaligus mencegah potensi kekurangan pasokan yang dapat memicu kenaikan harga.
“Seharusnya, pemerintah lebih aktif berkoordinasi dengan kami soal ketersediaan stok menjelang Ramadan hingga Idul Fitri. Panen ayam membutuhkan waktu 45 hari. Alangkah baiknya jika dinas terkait mengundang kami untuk rapat dalam rangka memastikan kesiapan stok dan mengatur proporsi antara pasokan ayam potong lokal dan ayam beku,” pungkasnya.
Ia menilai, melalui koordinasi yang terencana antara pemerintah dan pelaku usaha, pengendalian pasokan maupun stabilitas harga ayam di pasaran dapat lebih terjaga, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama periode hari besar keagamaan. (nys/*)









