NOTIFNEWS – Para pelaku usaha peternakan di Kota Tarakan dinilai semakin terancam dan kehilangan ruang di pasar sendiri, akibat tidak terkendalinya arus ternak dan produk pangan dari luar daerah.
Kondisi ini menjadi sorotan Komisi III DPRD Tarakan, dimana jika arus pemasaran (pasokan dari luar tidak tsrkendali dan dibiarkan terus menerus akan mengancam keberadaan peternak lokal.
Anggota Komisi III DPRD Tarakan, Umar Rafiq, mejjelaskan bahwa pedagang sapi lokal pernah mengalami kerugian besar, lantaran pasokan sapi dari luar daerah masuk secara berlebihan.
Adapun, sistem pendaftaran online yang digunakan disebut membuat jumlah sapi yang masuk tidak sebanding dengan kebutuhan pasar.
Hal tersebut mengakibatkan banyak pedagang tidak mampu menjual ternaknya.
Lantas, Umar Rapiq menerangkan, saat ini ada pedagang yang hanya berhasil menjual satu ekor dari 10 sapi yang dibawa. Bahkan ada yang masih menyisakan lebih dari 20 ekor dari total 30 sapi yang dipasarkan.
Ia menilai kondisi tersebut diperparah dengan adanya pihak tertentu yang diduga mampu memasukkan sapi dalam jumlah sangat besar sekaligus menguasai penjualan hingga tingkat eceran.
“Yang dulunya hanya sebagai sub, sekarang sudah mengecer sendiri. Jadi pedagang kecil makin sulit bersaing,” terangnya.
Selain para peternak dan pedagang sapi, Umar Rapiq juga menyoroti nasib peternak ayam lokal akibat tingginya pasokan ayam beku dari luar daerah.
Dikatakan Umar Rapiq, ketika peternak lokal memasuki masa panen, pasar justru dipenuhi ayam beku dengan harga lebih murah.
Hal ini menyebabkan peternak ayam maupun pedagang ayam lokal mengalami kelesuan dari segi penjualan, dan bahkan terancam gulung tikar.
“Banyak peternak yang akhirnya menjual kandangnya karena sudah angkat tangan,” jelasnya.
Ia meminta pemerintah daerah segera membuat kebijakan pengendalian pasokan dari luar daerah agar pelaku usaha lokal tetap memiliki ruang hidup.
“Jika tidak ada perlindungan yang jelas, peternak dan pedagang lokal akan terus kalah bersaing dengan pemain besar dan produk luar daerah, tukasnya.(*)












