NOTIFNEWS – Hasil survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan sekitar 80 persen uang yang beredar di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sudah dalam kondisi lusuh dan perlu ditukar. Untuk menjaga kualitas uang rupiah yang beredar, BI menghadirkan layanan penukaran melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator Wilayah Kalimantan, Haris Munandar, mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan ekspedisi yang menyasar sejumlah wilayah kepulauan dan perbatasan, termasuk di Provinsi Kalimantan Utara.
Menurut Haris, berdasarkan hasil survei BI, sebagian besar uang yang beredar di wilayah 3T sebenarnya masih dapat digunakan, namun kondisinya sudah lusuh sehingga sebaiknya segera ditukarkan agar masyarakat tetap menggunakan uang rupiah yang berkualitas.
“Kalau dari hasil survei kami, 80 persen itu uang lusuh memang sudah waktunya untuk ditukar. Tapi bukan berarti tak layak edar, alangkah baiknya kita melayani masyarakat tidak menunggu uang itu benar-benar lusuh atau robek,” ujarnya usai pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Dermaga Koarmada II Tarakan, Senin (14/7/2026).
Untuk mendukung layanan tersebut, Bank Indonesia menyiapkan uang layak edar senilai Rp6 miliar dalam berbagai pecahan. Uang tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan penukaran masyarakat di lima pulau yang menjadi sasaran Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026.
Selain melayani penukaran uang lusuh, BI juga menyediakan berbagai pecahan uang guna memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat, seperti aktivitas jual beli di pasar maupun kebutuhan sehari-hari lainnya.
Haris mengungkapkan, hampir seluruh uang yang dibawa dalam pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat pada tahun-tahun sebelumnya selalu habis ditukarkan masyarakat. Bahkan, di beberapa wilayah masih terdapat permintaan tambahan terhadap layanan penukaran uang.
“Kalau bisa habis, justru kami senang. Itu artinya apa yang kami bawa benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Bahkan di beberapa daerah masih ada kebutuhan lebih,” katanya.
Selain memberikan layanan kas keliling, BI juga memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan literasi masyarakat melalui edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, termasuk mengenalkan cara membedakan uang asli dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang) serta mengajak masyarakat merawat uang agar tetap dalam kondisi baik.
Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 di Kalimantan Utara berlangsung pada 14–27 Juli 2026 dengan mengunjungi Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, dan Pulau Derawan menggunakan KRI Ajak-653. Program tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia memperluas layanan penukaran uang sekaligus menjaga kualitas rupiah yang beredar di wilayah kepulauan, perbatasan, dan daerah 3T.









