NOTIFNEWS – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melaksanakan kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PM-BEM) BIMA 2025 bertema “Induksi Pematangan Gonad Ikan Budidaya Air Tawar Melalui Rekayasa Hormonal bagi Peningkatan Produksi Benih Unggul di Kota Tarakan.”
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua PM-BEM FPIK UBT, Rukisah Saleh, ini diselenggarakan di Kampung Empat, Kota Tarakan, Sabtu (5/10/2025).
Program ini merupakan bagian dari hibah kompetitif nasional BIMA Kemendikbudristek RI yang sifatnya kompetitif dan merupakan program baru di tingkat nasional. Melalui skema tersebut, civitas akademika UBT — dalam hal ini BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), BEM Fakultas Ekonomi (FE), dan BEM Universitas Borneo Tarakan (UBT) — berkolaborasi untuk menyusun proposal hingga akhirnya berhasil lolos pendanaan tahun 2025. Hibah ini bertujuan mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat yang inovatif dan berbasis riset, agar mahasiswa dapat berperan aktif dalam mengatasi persoalan di lingkungan sekitarnya.
Rukisah menjelaskan, kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari upaya UBT dalam mengembangkan inovasi teknologi budidaya yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa, dosen, dan masyarakat mitra berkolaborasi untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan di Tarakan.

Menurutnya, kegiatan PM-BEM BIMA 2025 merupakan hasil seleksi nasional yang diikuti oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia. FPIK UBT menjadi salah satu dari dua tim di UBT yang lolos pendanaan bersama Fakultas Teknik.
Ia menerangkan, teknologi rekayasa hormonal yang diajarkan berfungsi mempercepat kematangan gonad ikan melalui penyuntikan hormon tertentu, sehingga induk ikan dapat memijah lebih cepat dan menghasilkan benih unggul dalam waktu singkat.
“Dengan metode ini, proses pembenihan bisa berlangsung lebih efisien. Kalau biasanya ikan hanya bisa dipijahkan satu hingga dua kali setahun, melalui rekayasa hormonal bisa empat kali atau lebih,” jelas Rukisah.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami kondisi nyata pembudidayaan ikan di lapangan.
Sementara itu, dosen pendamping kegiatan, Gloria Ika Satriani, menjelaskan bahwa penerapan teknologi rekayasa hormonal terbukti mampu meningkatkan tingkat keberhasilan pembuahan hingga 90 persen, dibandingkan metode alami yang hanya mencapai 60–70 persen.
“Rekayasa hormonal membantu mempercepat pematangan gonad ikan. Kondisi telur dan sperma menjadi lebih prima, sehingga peluang pembuahan dan penetasan larva juga lebih tinggi,” terang Gloria.

Ia menuturkan, program PM-BEM ini akan dijalankan hingga akhir tahun 2025 dengan pendampingan berkelanjutan oleh mahasiswa dan dosen. Selama periode tersebut, dilakukan evaluasi untuk mengukur keberhasilan penerapan teknologi di lapangan.
“Kalaupun hasilnya belum maksimal, akan dievaluasi dan diperbaiki. Yang penting masyarakat mendapat pendampingan sampai benar-benar bisa mandiri,” tambahnya.
Gloria berharap, kegiatan ini menjadi wujud nyata kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat. “Riset di kampus tidak berhenti di laboratorium, tapi harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa belajar berinteraksi dan memahami tantangan di dunia usaha budidaya ikan,” katanya.
Dukungan juga datang dari masyarakat. Sekretaris Pokdakan Raja Ikan, Edi Suharyanto, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut sangat membantu kelompoknya, terutama dalam hal pemijahan dan produksi benih ikan air tawar.
“Selama ini kami masih bergantung pada pasokan bibit dari luar. Dengan pelatihan ini, kami bisa belajar cara memproduksi benih sendiri melalui pemijahan buatan,” ujarnya.
Menurut Edi, kegiatan ini membuka peluang kemandirian bagi pembudidaya lokal sekaligus menekan biaya produksi.
“Selama ini biaya terbesar kami ada pada pembelian benih dan pakan. Kalau kami bisa memproduksi benih sendiri, maka biaya bisa ditekan bahkan sampai nol untuk komponen benih,” jelasnya.
Ia berharap pelatihan tidak berhenti pada teori, tetapi berlanjut dengan praktik dan pembinaan jangka panjang.
“Kami masih perlu bimbingan dalam hal pemilihan induk, perawatan, dan manajemen pakan. Harapannya, kegiatan ini bisa berkesinambungan sampai kami benar-benar mandiri,” tambahnya.

Program PM-BEM BIMA 2025 ini menggandeng dua mitra masyarakat, yakni Pokdakan Raja Ikan dan Pokdakan Antara Lestari di wilayah Kampung Empat. Selain penyuluhan teori, kegiatan juga mencakup praktik penyuntikan hormon pada induk ikan lele, teknik induced breeding, serta penerapan metode budikdamber (budidaya ikan dalam ember) yang menggabungkan pemeliharaan ikan dan tanaman secara bersamaan.
Melalui kolaborasi ini, UBT menargetkan terciptanya kelompok pembudidaya ikan air tawar yang mandiri, inovatif, dan mampu menerapkan hasil riset perguruan tinggi secara berkelanjutan di Kota Tarakan. (**)












